Tangisan malam
Karya : sofiatul marisah
Senja itu terasa ramai ketika semua anggota
pramuka mempersiapkan proker yang setiap tahun diadakan di bumi perkemahan dan
kegiatan itu merupakan salah satu sejarah yang mengukir setiap ambalan.
“ Alena, Arimbi, Pandu, kalian
jaga untuk malam ke satu dan yang lain untuk malam berikutnya “ sontak Albar
pradana putra ambalan tersebut.
“ lalu kau sendiri bagaimana ?
“ aku ikut jaga setiap malam,
aku tak ingin ada kejadian yang tidak di inginkan.
Setelah persiapan selesai mereka pulang
karena masih ada persiapan lain yang harus dibawa. Namun Arimbi belum saja
pulang karena sopir yang biasa menjemputnya sedang mengantar mamanya chek up ke
rumah sakit. Pandu dan Albar menghampiri Arimbi di depan gerbang.
“ Arimbi kenapa kamu belum
pulang ? Tanya Albar
“ iyahh aku nunggu jemputan “
“ memangnya sopir yang biasa
jemput kamu kemana ?
“ tadi kata kak Rizal
lagi nganter mama chek up “
“ oooo , biar aku
temenin ya ? lagian udah sore dan sepi juga takutnya kenapa-napa !
“ yaellaaah eciee
ahaha aku pulang duluan yaa, sekalian beli bendera buat sangga kita daaahhhhhhh
“
Pandupun pulang karena ia harus membeli
bendera untuk besok lalu tinggalah Albar dan Arimbi mereka sedang bercakapan,
sebenarnya mereka mempunyai perasaan yang sama, hanya saja mereka menganggap
hubungan ini layaknya adik dan kakak. Tak menyiakan waktu itu Albar
mengungungkapkan perasaannya karena ia sudah memendam perasaannya. Walau disisi
lain Alena juga menyimpan perasaan yang sama kepada Albar namun Albar tetap
pada perasaannya yaitu Arimbi karena ia hanya menganggap Alena tidak lebih dari
seorang sahabat.
“ aku ingin
menanyakan sesuatu kepadamu Arimbi, tapi tolong jawab jujur sesuai perasaanmu
dan aku harap kamu tak pernah membuat ku kecewa ? sambil menggenggam tangan Arimbi
“ iyaa silakan Bar
aku akan jawab sesuai perasaanku agar
kamu tak kecewa “
“ aku mencintaimu Arimbi,
aku ingin menyayangimu lebih dari seorang adik, apakah kamu menyimpan perasaan
yang sama kepadaku ? Tanya Albar
Arimbi terdiam dan merenung dia bingung akan
perasaannya walaupun sebenarnya Arimbi menyimpan perasaan yang sama. Namun ia
tak ingin mengecewakan Albar dan ia tak ingin membohongi perasaannya sendiri.
“ akuuu, aku juga sayang
sama kamu Bar ! jawab Arimbi dengan tergesa-gesa
“ benarkah Arimbi ?
“ iyah benar “
Setelah Albar mengungkapkan perasaannya
merekapun bersatu dan tak lama kemudian jemputan Arimbi datang, klaksonpun
berbunyii piphhh …piphh …
“ aku sudah
ditunggu Bar, aku pulang dulu yaah …
“ iyah Arimbi
hati-hati “
Keesokan harinya Arimbi berangkat ke sekolah
beranjak dari mobilnya orang pertama yang ia cari adalah Albar, begitupun Albar
yang mencari Arimbi, biasanya ia selalu duduk di bawah pohon jambu sambil
membaca novel. Tak lama kemudian Albar melihat Arimbi dari kejauhan menuju
sanggar.
“ Arimbii tungguu !
sambil berlari mengejar Arimbi
“ Albar kamu kenapa
kok lari-lari ? Tanya Arimbi
“ tidak apa-apa Arimbi,
kamu mau kesanggarkan biar sekalian aku temenin “
“ iyah sihh “
“ aku merasa
khawair denganmu, kurasa ada yang berbeda untuk hari ini karena itu aku mohon
berhati-hatilah Arimbi “
“ iyah Bar kamu
juga hati-hati, aku tak ingin meniggalkanmu walaupun aku pergi “
“ apa maksud kamu Arimbi ?
Priithh … prith …
suara peluit berbunyi saatnya upacara pembukaan ke buper di mulai dan
percakapan mereka terpotong.
Sesampai di
buper kabar tentang Arimbi dan Albar sampai ketelinga Alena, Alena sendiri
adalah gadis yang dapat di bilang egois karena tak pernah memperdulikan orang
lain dan apa yang ada di sekelilingnya, ia selalu iri dengan apa yang
orang lain dapatkan.
“ Bar aku pengen ngomong sama kamu ? Tanya Alena
“ iyah mau ngomong apa Len ? sambil menata kayu bakar
untuk api unggun nanti malam.
“ apa Arimbi itu pacar kamu ?
“ kenapa kamu menanyakan itu ? sahut Albar
“ aku hanya ingin tau dan butuh kepastian, kenapa kamu
lebih milih Arimbi dari pada aku, aku cinta sama kamu Bar aku rela ngelakuin
apa aja demi kamu !
“ cukup Len, ada Pandu yang menantimu, aku hanya
mencintai Arimbi seorang, aku minta maaf “
Beranjak dari
tempat tersebut Albar langsung pergi dan mengambil kayu bakar lagi. Alena
sangat kecewa dan ia cemburu sampai-sampai ia menghilangkan nyawa Arimbi. Malam
itu usai api unggun semuanya bertugas untuk jaga malam, Alena tak segan-segan
mengajak arimbi ke tengah hutan.
“ Len, kenapa kita kesini, kita sudah jauh dari lokasi
buper ?
“ kenapa, kamu takut ?
“ bukannya aku takut Len, Albar pasti nyariin aku “
“ eeehhh pede banget sih jadi cewek, kamu tuh tega sama
aku, harusnya kamu tuh tau Arimbi kalo aku cinta sama Albar, tapi kenapa kamu
rebut Albar dari aku ! sambil menahan Arimbi
“ Len, Alenaaaa aku minta maaf tapi aku sayang sama Albar
“
“ asal kamu tau yaa aku benci sama kamu,aku minta kamu
putusin Albar sekarang atau kamu aku dorong ke jurang sanaa ?
“ tapi Len aku ga bisa, aku udah janji sama Albar aku
ga akan ninggalin dia “
“ ngeeyell banget kamuu !
Lalu Arimbi
jatuh ke jurang karena Alena tak bisa mengontrol emosinya sehingga ia mndorong
Arimbi dan Alenapun ketakutan lalu meninggalkan Arimbi dan kembali ke lokasi
buper.
Keesokan harinya
semua mencari Arimbi, seharian mencari tiada henti hingga larut malam dan Albarpun
mendengar suara tangisan yang tak asing di telinganya, namun Albar menghiraukan
suara itu. Akhirnya mereka pulang tanpa Arimbi begitu pula dengan mamanya yang
sangat kehilangan. Kini Albar melewati hari-harinya dengan kesendirian, satu
tahun berlalu ia tak bisa melupakan Arimbi dan kini perkemahan di laksanakan
kembali.
“ Bar kamu kenapa dari tadi terdiam, mendingan bantuin
aku ni bentar lagi hujan ? sapa Pandu sahabatnya
“ aku hanya teringat Arimbi “
“ sudahlahh kamu yang sabar, kalo Arimbi memang masih
pasti dia akan menemuimu, dan kalo memang sudah gak ada kamu ikhlasin saja biar Arimbi tenang “
Malam itu Albar
keliling untuk jaga malam, suasana hening tengah malam dan udara dingin membuat
bulu kuduk Albar merinding dengan suara tangisan yang menghantui telinganya,
jauh sudah langkah Albar mendekati sumber suara tangisan itu ia merasakan ada
yang aneh di bawah jurang itu. Satu langkah
mendekati jurang Alena dan Pandu datang, Alena ketakutan mendekati jurang itu
dan ia mengajak Albar kembali ke lokasi buper.
Paginya Albar mencari tau mengapa Alena
terlihat takut saat ia mendekati jurang itu dan kenapa selalu menjauh ketika
ditanya tentang Arimbi. Lalu Albar mengajak Alena ke dekat jurang itu.
“ kenapa kamu
ajak aku kesini, ayoolaaahh kita pulang ?
“ aku
mengajakmu kesini karena aku ingin menanyakan satu hal tentang Arimbi, apa yang
kamu lakukan terakhir bersama Arimbi ?
“ aku tak tau
apa-apa tentang Arimbi, dia jatuh sendirinya ! jawab Alena keceplosan
“ apaaa
jatuhh ! darimana kamu tau Len ?
“ iyah aku
yang mendorong Arimbi ke jurang sana, aku melakukan itu karena aku
menginginkanmu Bar, aku juga cinta sama kamu “
“ kenapa
setega itu dengan temanmu sendiri Len, aku ga nyangka di balik semua itu kamu
adalah pelakunya Len !
“ Bar aku
minta maaf, please jangan laporin aku ke polisi “
Albarpun terdiam dan merenung, ia sangat
terpukul setelah mendengar semuanya, dan tak lama kemudian tim evakuasi datang dan mengintrogasi Alena .
. . . . . . . .
Selesai !
Amanat : dari cerita di atas dapat kita petik
bahwa mencintai seseorang itu tidak dengan paksaan dan janganlah bertindak
sesuka hati tanpa berfikir akarnya