Minggu, 21 Juli 2013

cerpen tangisan malam




Tangisan malam
Karya : sofiatul marisah


  Senja itu terasa ramai ketika semua anggota pramuka mempersiapkan proker yang setiap tahun diadakan di bumi perkemahan dan kegiatan itu merupakan salah satu sejarah yang mengukir setiap ambalan.
“ Alena, Arimbi, Pandu, kalian jaga untuk malam ke satu dan yang lain untuk malam berikutnya “ sontak Albar pradana putra ambalan tersebut.
“ lalu kau sendiri bagaimana ?
“ aku ikut jaga setiap malam, aku tak ingin ada kejadian yang tidak di inginkan.
  Setelah persiapan selesai mereka pulang karena masih ada persiapan lain yang harus dibawa. Namun Arimbi belum saja pulang karena sopir yang biasa menjemputnya sedang mengantar mamanya chek up ke rumah sakit. Pandu dan Albar menghampiri Arimbi di depan gerbang.
“ Arimbi kenapa kamu belum pulang ? Tanya Albar
“ iyahh aku nunggu jemputan “
“ memangnya sopir yang biasa jemput kamu kemana ?
“ tadi kata kak Rizal lagi nganter mama chek  up “
“ oooo , biar aku temenin ya ? lagian udah sore dan sepi juga takutnya kenapa-napa !
“ yaellaaah eciee ahaha aku pulang duluan yaa, sekalian beli bendera buat sangga kita daaahhhhhhh “
  Pandupun pulang karena ia harus membeli bendera untuk besok lalu tinggalah Albar dan Arimbi mereka sedang bercakapan, sebenarnya mereka mempunyai perasaan yang sama, hanya saja mereka menganggap hubungan ini layaknya adik dan kakak. Tak menyiakan waktu itu Albar mengungungkapkan perasaannya karena ia sudah memendam perasaannya. Walau disisi lain Alena juga menyimpan perasaan yang sama kepada Albar namun Albar tetap pada perasaannya yaitu Arimbi karena ia hanya menganggap Alena tidak lebih dari seorang sahabat.
“ aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu Arimbi, tapi tolong jawab jujur sesuai perasaanmu dan aku harap kamu tak pernah membuat ku kecewa ? sambil menggenggam tangan Arimbi
“ iyaa silakan Bar aku akan  jawab sesuai perasaanku agar kamu tak kecewa “
“ aku mencintaimu Arimbi, aku ingin menyayangimu lebih dari seorang adik, apakah kamu menyimpan perasaan yang sama kepadaku ? Tanya Albar
  Arimbi terdiam dan merenung dia bingung akan perasaannya walaupun sebenarnya Arimbi menyimpan perasaan yang sama. Namun ia tak ingin mengecewakan Albar dan ia tak ingin membohongi perasaannya sendiri.
“ akuuu, aku juga sayang sama kamu Bar ! jawab Arimbi dengan tergesa-gesa
“ benarkah Arimbi ?
“ iyah benar “
  Setelah Albar mengungkapkan perasaannya merekapun bersatu dan tak lama kemudian jemputan Arimbi datang, klaksonpun berbunyii  piphhh …piphh 
“ aku sudah ditunggu Bar, aku pulang dulu yaah …
“ iyah Arimbi hati-hati “
  Keesokan harinya Arimbi berangkat ke sekolah beranjak dari mobilnya orang pertama yang ia cari adalah Albar, begitupun Albar yang mencari Arimbi, biasanya ia selalu duduk di bawah pohon jambu sambil membaca novel. Tak lama kemudian Albar melihat Arimbi dari kejauhan menuju sanggar.
“ Arimbii tungguu ! sambil berlari mengejar Arimbi
“ Albar kamu kenapa kok lari-lari ? Tanya Arimbi
“ tidak apa-apa Arimbi, kamu mau kesanggarkan biar sekalian aku temenin “
“ iyah sihh “
“ aku merasa khawair denganmu, kurasa ada yang berbeda untuk hari ini karena itu aku mohon berhati-hatilah Arimbi “
“ iyah Bar kamu juga hati-hati, aku tak ingin meniggalkanmu walaupun aku pergi “
“ apa maksud kamu Arimbi ?
  Priithh … prith … suara peluit berbunyi saatnya upacara pembukaan ke buper di mulai dan percakapan mereka terpotong.
  Sesampai di buper kabar tentang Arimbi dan Albar sampai ketelinga Alena, Alena sendiri adalah gadis yang dapat di bilang egois karena tak pernah memperdulikan orang lain dan apa yang ada di sekelilingnya, ia selalu iri dengan apa yang orang  lain dapatkan.
“ Bar aku pengen ngomong sama kamu ? Tanya Alena
“ iyah mau ngomong apa Len ? sambil menata kayu bakar untuk api unggun nanti malam.
“ apa Arimbi itu pacar kamu ?
“ kenapa kamu menanyakan itu ? sahut Albar
“ aku hanya ingin tau dan butuh kepastian, kenapa kamu lebih milih Arimbi dari pada aku, aku cinta sama kamu Bar aku rela ngelakuin apa aja demi kamu !
“ cukup Len, ada Pandu yang menantimu, aku hanya mencintai Arimbi seorang, aku minta maaf “
  Beranjak dari tempat tersebut Albar langsung pergi dan mengambil kayu bakar lagi. Alena sangat kecewa dan ia cemburu sampai-sampai ia menghilangkan nyawa Arimbi. Malam itu usai api unggun semuanya bertugas untuk jaga malam, Alena tak segan-segan mengajak arimbi ke tengah hutan.
“ Len, kenapa kita kesini, kita sudah jauh dari lokasi buper ?
“ kenapa, kamu takut ?
“ bukannya aku takut Len, Albar pasti nyariin aku “
“ eeehhh pede banget sih jadi cewek, kamu tuh tega sama aku, harusnya kamu tuh tau Arimbi kalo aku cinta sama Albar, tapi kenapa kamu rebut Albar dari aku ! sambil menahan Arimbi
“ Len, Alenaaaa aku minta maaf tapi aku sayang sama Albar “
“ asal kamu tau yaa aku benci sama kamu,aku minta kamu putusin Albar sekarang atau kamu aku dorong ke jurang sanaa ?
“ tapi Len aku ga bisa, aku udah janji sama Albar aku ga akan  ninggalin dia “
“ ngeeyell banget kamuu !
  Lalu Arimbi jatuh ke jurang karena Alena tak bisa mengontrol emosinya sehingga ia mndorong Arimbi dan Alenapun ketakutan lalu meninggalkan Arimbi dan kembali ke lokasi buper.
  Keesokan harinya semua mencari Arimbi, seharian mencari tiada henti hingga larut malam dan Albarpun mendengar suara tangisan yang tak asing di telinganya, namun Albar menghiraukan suara itu. Akhirnya mereka pulang tanpa Arimbi begitu pula dengan mamanya yang sangat kehilangan. Kini Albar melewati hari-harinya dengan kesendirian, satu tahun berlalu ia tak bisa melupakan Arimbi dan kini perkemahan di laksanakan kembali.
“ Bar kamu kenapa dari tadi terdiam, mendingan bantuin aku ni bentar lagi hujan ? sapa Pandu sahabatnya
“ aku hanya teringat Arimbi “
“ sudahlahh kamu yang sabar, kalo Arimbi memang masih pasti dia akan menemuimu, dan kalo memang sudah gak ada kamu ikhlasin  saja biar Arimbi tenang “
  Malam itu Albar keliling untuk jaga malam, suasana hening tengah malam dan udara dingin membuat bulu kuduk Albar merinding dengan suara tangisan yang menghantui telinganya, jauh sudah langkah Albar mendekati sumber suara tangisan itu ia merasakan ada yang aneh di bawah jurang itu. Satu langkah mendekati jurang Alena dan Pandu datang, Alena ketakutan mendekati jurang itu dan ia mengajak Albar kembali ke lokasi buper.
  Paginya Albar mencari tau mengapa Alena terlihat takut saat ia mendekati jurang itu dan kenapa selalu menjauh ketika ditanya tentang Arimbi. Lalu Albar mengajak Alena ke dekat jurang itu.
“ kenapa kamu ajak aku kesini, ayoolaaahh kita pulang ?
“ aku mengajakmu kesini karena aku ingin menanyakan satu hal tentang Arimbi, apa yang kamu lakukan terakhir bersama Arimbi ?
“ aku tak tau apa-apa tentang Arimbi, dia jatuh sendirinya ! jawab Alena keceplosan
“ apaaa jatuhh ! darimana kamu tau Len ?
“ iyah aku yang mendorong Arimbi ke jurang sana, aku melakukan itu karena aku menginginkanmu Bar, aku juga cinta sama kamu “
“ kenapa setega itu dengan temanmu sendiri Len, aku ga nyangka di balik semua itu kamu adalah pelakunya Len !
“ Bar aku minta maaf, please jangan laporin aku ke polisi “
  Albarpun terdiam dan merenung, ia sangat terpukul setelah mendengar semuanya, dan tak lama kemudian  tim evakuasi datang dan mengintrogasi Alena . . . . . . . . .
Selesai !
Amanat : dari cerita di atas dapat kita petik bahwa mencintai seseorang itu tidak dengan paksaan dan janganlah bertindak sesuka hati tanpa berfikir akarnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar